Sejarah Desa

Pemdes Siraman 30 April 2014 17:20:39 WIB

Keistimewaan Desa Siraman :

MENJADI SAKSI JAMAN KERAJAAN:

  1. Ronggo Puspowilogo dadi Pimpinan Para Demang di Kadipaten Sumingkar
  2. Pada masa Sultan HB VII, diSiraman ditemukan Pusaka  Keraton Ngayogyakarta pada masa Sultan HB V berupa  Cundrik dan tumbak yang bernama Tumbak Kiyai Ganter asli dari Pajang yang dititipkan pada Kerajaan Mataram 1

 

MENJADI SAKSI JAMAN KEMERDEKAAN:

  1. Desa Siraman menjadi Markas Besar TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang tepatnya berada di kediaman Bapak Siman Hadi Wijoyo Dusun Siraman II
  2. Desa Siraman menjadi tempat penyerahan kedaulatan oleh Belanda ke Republik Indonesia pada tanggal 24 Juni 1946 di Lapangan Sepak Bola Desa Siraman

 

Desa Siraman merupakan gabungan dari 2 wilayah besar yang pada jaman dahulu dinamai Semangkulan (Sekarang wilayah Siraman I, Siraman II dan Siraman III) dan Seneng (Sekarang wilayah Besari, Winong dan Seneng)

  • Cikal Bakal Seneng adalah Eyang Intoko yang merupakan  Abdi Dalem (Pengawal) Bupati Ponorogo masa setelah Batoro Katong.
  • CIkal Bakal Semangkulan/Siraman adalah Eyang Tali merto yang merupakan Tumenggung (komandan) bergodo hidup pada masa Sultan ke 5-7 umur lebih dari 120th.

 

Ada 2 versi sejarah Desa Siraman.

VERSI PERTAMA

Dahulu ada Wali (Sunan Kalijaga) melewati wilayah yang bernama Semangkulan (nama sebelum Siraman) dan sampai di sumur cedak, Sang Wali beristirahat dan bercuci dengan air disitu. Karena airnya sangat banyak, bersih dan menyegarkan serta digunakan untuk mandi warga sekitar Sang Wali menamakan wilayah itu menjadi Siraman.

Kemudian Sang Wali melanjutkan perjalanan kearah timur. Karena merasa haus, Sang Wali menghampiri seorang wanita yang sedang menenun kain didepan rumah dan meminta air minum. Namun karena sedang menstruasi dia malu untuk berdiri memberikan air kepada Sang Wali dan wanita itu berbohong dengan mengatakan bahwa dia tidak memiliki air karena wilayah ini jauh dari mata air sehingga harus mengambil air dari wilayah lain.

Sang wali pun marah karena diperjalanan mengetahui bahwa sebenarnya Semangkulan memiliki sumber air yang sangat besar namun wanita itu berbohong dan tidak mau memberikan sedikit air untuk melepas dahaga. Akhirnya Sang Wali menutup sumber air di Sumur Cedak dengan menggunakan daun lontar agar tidak mengeluarkan air lagi.

Kemudian Sang Wali meneruskan perjalanan kearah selatan dan beristirahat disebuah tempat dan duduk di tlatar batu. Kemudian Sang Wali menancapkan tongkat disana dan tumbuh pohon jati yang kemudian tempat tersebut dinamakan Jati Sari. Sampai saat ini Pohon jati tersebut masih ada dan menjadi tempat yang dikeramatkan.

 

VERSI KEDUA

Dumadine Desa Siraman bermula dari adanya pusaka kraton Ngayogyakarta yang hilang ada dua berupa tombak dan keris kecil (cundrik) masa Sri Sultan 5. Pusaka itu ditemukan kembali ketika HB 7. Pusaka itu dijamasi/dibersihkan/disiram menggunakan sumber yang ada di Kedung yang ijo (Karena airnya sangat hijau) yang kemudian kedung itu diberi nama kedung riu Kedung Riu/Kedung Ijo. Kedung riu merupakan aliran sungai yang terjadi  karena Sunan Kalijaga menancapkan tongkat dari sungai pancuran dan ditarik sampai Gunung Bagus Paliyan.

Desa Siraman dinamakan Siraman  karena digunakan untuk nyirami pusaka/jamasi pusoko tersebut. Penemuan dan penjamasan pusoko tersebut terjadi pada Masa Woso Setiko.

Pemberian nama Siraman 1895-1899 yang jatuh pada Jum’at Pon

 

SILSILAH KEPALA DESA SIRAMAN

  1. Kepala Desa pertama masih disebut BEKEL yaitu BEKEL WOSO SETIKO masa jabatan belum diketahui. Tinggal di dusun Siraman III dan dimakamkan di Makam Siraman III
  2. Kepala Desa kedua adalah KERTO WONGSO masa jabatan belum diketahui. Tinggal di dusun Siraman III dan dimakamkan di Makam Siraman III
  3. Kepala Desa ketiga adalah AHMAD IRSYAD atau sering dipanggil LURAH ASRAF (Asraf adalah putra pertama Lurah Ahmad Irsyad) masa jabatan 1919 s/d 1929. Tinggal di dusun Siraman III wafat pada tanggal 7 Agustus 1953 di Makam Siraman III
  4. Kepala Desa ke-empat adalah KROMO REJO masa jabatan 1929 s/d 1946 Tinggal di dusun Besari dan dimakamkan di Makam Joho dusun Winong
  5. Kepala Desa REJO SENTONO tahun 1946 masa jabatan sampai pemilihan Kepala Desa Definitif
  6. Kepala Desa ke-lima adalah SASTRO SUWIRYO alias Kadiran kelahiran dusun Candi desa Ngawis kecamatan Karangmojo masa jabatan 1946 s/d 1963 Tinggal di dusun Siraman III  wafat pada hari Selasa Kliwon tanggal 18 Juni 1963  dan dimakamkan di Makam Siraman III
  7. Kepala Desa ke-enam adalah MANGKOE PAWIRO alias Margono kelahiran dusun Singkar desa wareng kecamatan wonosari masa jabatan 1963 s/d 1991 Tinggal di dusun Besari wafat tahun 2012 dimakamkan di Kepek .Pada masa beliau pertama kali membangun Balai Desa
  8. Kepala Desa SUDIMAN WARDI SUWITO (Carik) tempat tinggal di dusun Siraman III masa jabatan 1991 s/d 1993 dan sampai saat ini masih sehat wal-afiat
  9. Kepala Desa ke-tujuh adalah H.R SOEWARDI HADI PRANOTO kelahiran dusun grogol desa karangmojo kecamatan paliyan pada tanggal 14 April 1936. Masa jabatan 1993 s/d 2002 Tinggal di dusun besari wafat pada hari Kamis Kliwon tanggal 3 Maret 2011dimakamkan di Makam Bajangan Seneng
  10. Kepala Desa ke-delapan adalah M.Ng. SUPARNO CITROPANGARSO, SH, MH kelahiran dusun Winong pada tanggal 10 Desember 1964 bertempat tinggal di dusun Seneng. Masa jabatan 2002 s/d 2012 dan sampai saat ini masih sehat wal afiat.Pada masa beliau memugar Balai Desa menjadi semegah ini.
  11. Kepala Desa ke-sembilan adalah TUGIMAN kelahiran dusun Seneng pada tanggal 5 Maret 1957 bertempat tinggal di dusun Besari. Masa jabatan 2012 s/d 2016 dan sampai saat ini masih sehat wal afiat
  12. Kepala Desa DAMIYO (PNS DPU) masa jabatan 2016 s/d 2018
  13. Kepala Desa WASDANI (PNS KECAMATAN) tinggal di dusun Singkar Desa Wareng Kecamatan Wonosari menjabat bulan Maret 2018 s/d November 2018. Beliau mengawali penyusunan BUKU SEJARAH DESA dan menetapkan Branding Desa Siraman yaitu SIRAMAN SUMINAR
  14. Kepala Desa ke-sepuluh adalah DAMIYO kelahiran dusun Winong pada tanggal 25 Februari 1960 bertempat tinggal di dusun Winong. Dilantik oleh Bupati Gunungkidul tanggal 26 Novemper 2018.

 

(Trims.)

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung

Lokasi Siraman

tampilkan dalam peta lebih besar